Polemik Penghasilan Wanita di Era Pandemik

Oleh: Nuni Oktaviani, S.P., MM.

Mengalami masa pendemik dialami oleh setiap keluarga, terjadi PHK besar-besaran menyebabkan tingkat angka pengangguran. Laki-laki sebagai kepala rumah tangga dalam sebuah keluarga yang mengalami pengangguran di masa pendemik ini secara tidak langsung menuntut para istri/wanita untuk membantu mencari penghasilan untuk keliuarga. Bahkan banyak para wanita yang akhirnya menjadi tulang punggung keluarga di masa pendemik ini.

Di era globalisasi ini, informasi dari segala penjuru dunia tidak dapat dibendung. Di negara yang sangat kental dengan budaya patriarkinya ini, globalisasi seketika mendorong perubahan stigma ‘kodrat wanita’, terutama yang sudah menikah, yang selama ini terbatas hanya mengurus dapur dan sumur. Stigma itu perlahan-lahan terkikis oleh generasi muda sebagai agen perubahan, terutama wanita muda yang tidak ingin hanya menjadi jago kandang saja. Banyak wanita terjun ke dunia karir untuk memperbaiki taraf hidup dan ikut berperan dalam memajukan bangsa dengan turut mencari nafkah dan meniti karir. Hal ini merupakan gerakan segar sekaligus menerobos arus stigma ‘kodrat wanita’, terutama bagi mereka yang sudah menikah.

Pengenaan pajak penghasilan orang pribadi di Indonesia masih terdistorsi oleh perbedaan gender yang dalam beberapa kasus justru memperuncing ketidaksetaraan gender. Padahal, pajak merupakan salah satu bukti perwujudan nyata kontribusi dan dukungan masyarakat demi kemajuan bangsa dan negara, dan wanita merupakan salah satu elemen penting di dalamnya, bahkan jauh sejak sebelum Indonesia lahir. Dari kacamata pajak penghasilan, ada beberapa kondisi wanita yang jika ditilik lebih lanjut tidak setara bila dibandingkan dengan laki-laki dengan kondisi yang sama.

Wanita sebagai Kepala Keluarga

Menurut Aliansi Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) , wanita kepala keluarga adalah wanita yang melaksanakan peran dan tanggung jawab sebagai pencari nafkah, pengelola rumah tangga, penjaga keberlangsungan kehidupan keluarga, dan pengambil keputusan dalam keluarganya. Di dalamnya termasuk (1) wanita yang bercerai, (2) wanita yang ditinggal oleh suaminya, (3) wanita yang suaminya meninggal dunia, (4) wanita yang tidak menikah dan memiliki tanggungan keluarga, (5) wanita bersuami tetapi karena suatu hal suaminya tak dapat menjalankan fungsi sebagai kepala keluarga, (6) wanita bersuami namun suaminya tidak hidup dengannya secara berkesinambungan karena merantau atau berpoligami.

Ketidaksetaraan penghasilan wanita yang sudah menikah, dengan suaminya sehingga dapat memicu permasalahan lain-lainnya. Wanita yang terlalu mandiri sehingga berpikir sudah tidak bergantung kepada laki-laki yang sebagai kepala keluarga dan selanjutnya akan memmculkan permasalahan tersendiri jika kita tidak bijaksana dalam menyikapi kondisi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dosen PembelajarDosen Pembelajar

Menjadi seorang dosen bukanlah bearti berada pada puncak tertinggi keilmuan. Sebagai pelaksana tridahrma perguruan tinggi seorang dosen tidak hanya dituntut untuk profesional dalam mengajar tetapi juga menjadi seorang pembelajar. Penelitian

Rapat KoordinasiRapat Koordinasi

Membagung koordinasi antara Yayasan dan civitas akademika kampus adalah sangat penting dilakukan guna meningkatkan kinerja dan pengembangan lembaga. Hal ini pula yang dilakukan oleh citivas akademika STAIS Dharma dan Yayasan