Ikhiar dan Ridho dalam Hidup

Oleh: Arwani, S.E., M.AB

Syahdan, di sebuah padepokan yang terletak di pinggiran hutan di ujung pulau Jawa. Seorang ahli Waskita, pada suatu waktu memanggil para Khodim (peladen) nya.
Ada tiga orang yang setia menemaninya, saat ia menguzlahkan lahir dan batinnya dari hiruk pikuk dunia. Sebut saja namanya, Ibad, Abdun dan Abid.
Setelah ketiganya berkumpul. Sang ahli Waskita itu pun ngendhika :
“Wahai, Anak-anakku… Kelak, saat kalian kembali ke kehidupan yang sebenarnya, kalian akan menemukan jalan yang berbeda… Meskipun, mungkin sesekali kalian bertemu di perempatan yang sama, namun kalian akan melanjutkan jalan kalian masing-masing” …
Ketiganya menjawab bersamaan :”Injih Guru” …
Setelah menghisap Sigaret dan meneguk kopi hitam tanpa gula, Sang Ahli Waskita itu pun melanjutkan pituturnya :
“Wahai Anak-anakku, tiap-tiap manusia itu diwajibkan berusaha, untuk menggugurkan kewajiban kemanusiaannya, entah dengan pekerjaan apapun, bisa menjadi petani, pedagang, ataupun yang lainnya”
“Adapun mengenai hasil, semuanya pasrahkan saja pada Allah SWT… Yang wajib itu usahanya,bukan hasilnya” …
Ketiga Khodim itu pun menjawab :”Injih Guru” …
Sang Ahli berdiri … Lalu beliau menyuruh ketiga Khodimnya untuk melihat tiga pohon yang ada di depan padepokan…
“Lihatlah pohon-pohonitu … Wahai Anak-anakku… Ada yang berdahan besar dan berdaun rimbun, tapi tak memiliki buah. Ada yang berdahan kecil dan daunnya tak lebat, tapi memiliki buah. Ada yang dahannya mudah patah, daunnya menjuntai, tapi berbuah hanya sekali. Ada juga yang berdahan tinggi dan berdaun kecil, juga berbuah, tapi buahnya masam (kecut)”
“Seperti itu juga kelak kehidupan kalian nanti. Meskipun di sini, kalian mengabdikan diri dengan tenaga dan pikiran bahkan hati yang sama, namun hasilnya bisa sama bisa juga tidak sama. Itulah yang dinamakan dengan takdir Allah SWT”..
Mereka menjawab di sela-sela Sang Ahli meneguk kopi dan menyesap Sigaret .. “Injih Guru” …
“Ingatlah Wahai Anak-anakku… Yang paling berat itu Ridho dengan Takdir Allah SWT. Sungguh… Hanya orang-orang yang mampu memahami saja yang lolos dari ujian ini”..
“Kelak, kalian akan melihat betapa Kekuasaan Allah dalam menggelar Takdir-NYA itu tak bisa dinalar dengan akal. Hanya bisa diresapi dengan hati. Di sinilah fungsi iman, Wahai Anak2ku” ..
“Paham kan ?” …
Mereka bertiga kompak menjawab :”Injih Guru” …
Lalu Sang Ahli Waskita pun mengakhiri nasihatnya …
“Ya sudah kalau kalian mengerti” … “Silahkan lanjutkan kembali aktivitas kalian” …
Sang Ahli pun pergi meninggalkan padepokan itu … Masuk ke dalam tempat khalwatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dosen PembelajarDosen Pembelajar

Menjadi seorang dosen bukanlah bearti berada pada puncak tertinggi keilmuan. Sebagai pelaksana tridahrma perguruan tinggi seorang dosen tidak hanya dituntut untuk profesional dalam mengajar tetapi juga menjadi seorang pembelajar. Penelitian